Anak usia 8-10 buka situs porno

Rasanya agak repot mau memulai menulis ini, kenapa? Yach..; karena apa yang akan saya tulis ini akan asing buat kita semua sebagai orang tua atau mungkin juga sebagai majelis gereja; selain itu saya juga tidak mempersiapkannya secara sistematis, jadi ya maaf mungkin tulisannya agak kacau. Yang mau saya tulis adalah hal kebiasaan baru anak-anak usia 8-10 tahun yang suka mengakses situs porno dalam tayangan video. Saya mengatakannya sebagai kebiasaan baru karena anak-anak tersebut mengakses sudah lebih dari dua kali di tempat yang sama (warnet). Selain itu juga banyak anak usia SMP yang baru lulus SD (baik laki-laki maupun perempuan) mereka juga sering mengakses situs-situs porno dan malah ada yang sambil pacaran dan (maaf, ini terpaksa harus saya muat, supaya anda tahu gambarannya ketika anak lepas dari pengawasan orang tua itu apa yang dilakukan) tangan si lelakinya “bergerilya” dan selanjutnya nggak usah saya berikan gambaran detailnya anda bisa bayangkan sendiri apa yang dilakukan oleh anak-anak kita misalnya kalau sedang di depan komputer dan sedang konek dengan internet (situs porno maksudnya). Lalu yang jadi pertanyaan saya kalau anda sebagai orang tua, majelis gereja, atau sebagai pengajar katekisasi apa yang akan anda lakukan, ketika melihat, mendengar tentang apa yang dilakukan oleh anak-anak seusia tersebut?

Saya menulis ini tidak mengarang-ngarang cerita (walaupun yang mengakses itu bukan anak dari lingkungan KPAR sendiri (khususnya KPAR Jember), tapi itu bisa menjadi contoh atau bentuk keprihatinan kita sebagai orang tua. Apakah yang memprihatinkan itu orang tuanya atau anak-anak?

Masih belum percaya dengan apa yang saya katakan ini, atau anda mungkin mengatakan :”aku nggak akan khawatir karena nggak mungkin anakku akan berbuat itu..” Ya OK-lah kalau anda memang percaya pada anak anda. Tapi yang jelas yang mau saya katakan adalah hasil pengamatan mata kepala sendiri bahwa ada anak-anak seusia 8-10 tahun sudah mengenal banyak alamat situs-situs porno baik yang berlabel xxx, hentai (video porno dalam bentuk animasi). Saat mereka sedang browsing, kita orang tua  tidak sedang berada di samping anak kan?

Ketika saya mendapat kesempatan mengajar katekisasi, saya pernah bertanya kepada anak-anak apakah mereka memiliki HP berkamera, kenapa saya bertanya begitu kepada anak-anak, karena kebanyakan anak-anak memiliki HP berkamera dari orang tuanya, tapi saat itu memang anak-anak tidak ada anak yang memiliki HP kamera. Agak legalah hati saya saat itu. Namun pada kasus lain, saya tersentak ketika saya mengetahui sendiri pada suatu malam, ada anak yang memutar video porno di dalam ruang pemuda yang dipakai sebagai ruang operator sound system. Saat itu juga, saya mengusir anak-anak remaja yang tadinya mereka berencana tidur di di ruang pemuda, akhirnya mereka harus saya pulangkan saat itu juga walaupun saat itu sudah sangat larut untuk mereka. Saya tidak peduli bagi saya gereja tidak harus dibuat seperti “pasar” setiap orang bisa berbuat semaunya, Gereja harus disterilkan dari orang yang bermasud memanfaatkan waktu luang di sela-sela kesibukan aktifitas gereja. Gereja sebagai Bait Allah harus kita jaga “kekudusannya”. Akhirnya semuanya saya kembalikan kepada Anda semua sebagai orang tua.

Kiranya tulisan ini dapat membantu anda untuk mawas diri dan tetap waspada terhadap anak dan pergaulannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: